Jumat, 06 Juni 2014

Tasawuf Dalam Islam

A. Pengertian dan Asal-usul Tasawuf
     Tasawuf memiliki banyak pengertian sesuai dengan asal-usul kata:
  1. Shafa (suci) » kesucian batin sufi dan kebersihan tindakannya
  2. Shaff (barisan) » sufi memilih barisan terdepan dalam salat
  3. Shaufanah (buahan kecil berbulu) » sufi memakai pakaian berbulu domba
  4. Shuffah (serambi tempat duduk) » para tunawisma dan kalangan muhajjirin bernaung dimasjid nabawi dimadinah
  5. Shafwah (yang terpilih) » sufi adalah orang-orang yang terpilih diantara hamba-hamba Allah karena ketulusan amal
  6. Theosophi (hikmah) » kearifan ketuhanan
  7. Shuf (bulu domba) » sufi memakai pakaian dari bulu domba yang kasar
     Beberapa pengertian yang berkembang dengan tasawuf:
  1. Al-Junaid Al-Baghdadi » keberadaan bersama Allah tanpa adanya penghalang
  2. Abu Al-Qashim Al-Qusyairi » ajaran yang menjabarkan Al-Quran dan As-Sunnah
  3. Abu Muhammad Ruwain bin Ahmad » kemerdekaan jiwa bersama Allah atas apa yang dikehendakinya
  4. Muhammad Al-Jurairi » masuk ke dalam akhlak mulia dan keluar dari akhlak rendah
     Ajaran pokok tasawuf berkisar mengenai proses penyucian jiwa san pendekatan diri kepada Allah swt. Proses ini sangat panjang dan melalui banyak tahapan yang disebut dengan maqamat. Sedikitnya ada tujuh maqamat yang harus dilalui, yaitu:
  1. Taubat
  2. Zuhud
  3. Sabar
  4. Tawakkal
  5. Ridha
  6. Mahabah (cinta Allah)
  7. Ma'rifat
B. Karakteristik Tasawuf
  1. Tasawuf diartikan sebagai pengalaman mistik
  2. Tasawuf memiliki nilai-nilai moral
     Berdasarkan objek dan sarannya, tasawuf diklasifikasikan menjadi 3 macam, yaitu:
  1. Tasawuf akhlaqi » menetapkan nilai-nilai etis (moral)
  2. Tasawuf 'amali » mengutamakan kebiasaan beribadah
  3. Tasawuf falsafi » menekankan pada masalah-masalah filsafat
C. Tahapan Spiritual dan Ajaran Pokok Tasawuf
  1. Zuhud » menjauhkan diri dari segala sesuatu yang berkaitan dunia
  2. Mahabah » rasa cinta
  3. Fana' dan Baqa' » hancur dan kekal
  4. Ittihad » pengalaman kesatuan seorang sufi
  5. Hulul » bertempatnya sifat ketuhanan kepada sifat kemanusiaan
  6. Wahdatul wujud » wadah penampakan diri dari nama dan sifat Allah
D. Peran Tasawuf dalam Kehidupan Modern
  1. Zuhud
  2. Hidup sederhana
  3. Bekerja keras
  4. Perbaikan akhlak
  5. Ibadah


Sumber : catatan MAN

Perilaku Terpuji

A. Akhlak Berpakaian
1. Pengertian Akhlak Berpakaian
     Aurat adalah bagian tubuh yang diharamkan Allah untuk diperlihatkan kepada orang lain selain mahramnya. Pakaian adalah salah satu kebutuhan pokok manusia disamping makanan dan tempat tinggal. Akhlak berpakaian adalah tata cara/etika seseorang dalam berpakaian, baik berdasarkan adat budaya maupun syari'at agama.

2. Dalil Cara Berpakaian Islami

[QS.Al-Ahzab : 59]
Artinya : Wahai nabi! Katakanlah kepada istri-istrimu, anak-anak perempuan dan istri-istri orang mukmin, "Hendaklah mereka menutupkan jilbabnya keseluruh tubuh mereka". Yang demikian itu agar mereka lebih mudah untuk dikenali, sehingga mereka tidak diganggu. Dan Allah Maha Pengampun, Maha Penyanyang.

3. Pentingnya Akhlak Berpakaian

  • Terhindar dari fitnah
  • Terhindar dari pandangan syahwat
  • Terjaga kehormatannya
  • Selamat didunia dan akhirat
4. Bentuk Akhlak Berpakaian yang Islami
  • Menutup aurat
  • Tidak berlebihan dalam mengikuti trend model pakaian yang ada
  • Kain atau baju tidak menyeret tanah
  • Longgar dan tidak ketat
  • Tidak transparan
  • Tidak menyerupai laki-laki maupun sebaliknya
5. Macam dan Jenis Pakaian
  • Yuwaari sauatikum adalah pakaianyang sekedar menutup bagian yang malu dilihat orang
  • Riisyan adalah pakaian yang merupakan hiasan layak bagi manusia, lebih daripada hanya menyembunyikan autar saja
  • Libasut taqwa adalah pakaian yang merupakan ketaqwaan yang menyelamatkan diri, menyegarkan jiwa dan bangkit budi pekerti
6. Contoh Akhlak Berpakaian yang Islami
  • Memakai kerudung standar (menutup dada)
  • Memakai baju yang panjang dan longgar (tidak membentuk tubuh)
  • Memakai sandal dan ikat pinggang jika menggunakan sarung
  • Memakai sepatu jika menggunakan jas dan celana
  • Laki-laki tidak memakai pakaian yang berbahan sutra
7. Nilai Positif Akhlak Berpakaian
  • Menjaga kesehatan kulit manusia dari sengatan sinar matahari
  • Memudahkan terjadinya penguapan keringat
  • Terhindar dari pandangan yang bernilai nafsu syahwat
  • Terjaga kehormatan dan harga dirinya sebagai manusia
B. Akhlak Berhias
1. Pengertian Akhlak Berhias
     Berhias adalah upaya setiap orang untuk memperindah diri dengan berbagai busana, aksesoris, dan zat-zat (makeup) yang dapat memperelok diri bagi pemakainya sehingga memunculkan kesan indah bagi yang melihatnya.
     Akhlak berhias adalah tata cara/etika untuk memperindah diri dalam ruang lingkup yang sesuai norma dan syari'at agama.

2. Dalil Cara Berhias Islami
[HR.Muslim]
Artinya: Sesungguhnya Allah itu indah dan menyukai keindahan.

3. Pentingnya Akhlak Berhias
  • Terlihat anggun
  • Mencerminkan keimanan
  • Menghargai diri sendiri dan orang lain
  • Dihormati dan disegani orang lain
4. Bentuk Akhlak Berhias yang Islami
  • Tidak berlebihan dalam memakai perhiasan
  • Tidak memakai wangi-wangian ditempat umum
  • Tidak berlebihan dalam memakai makeup
  • Tidak menyalahi kodrat
  • Berniat hanya untuk beribadah
5. Contoh Akhlak Berhias yang Islami
  • Jika memakai perhiasan jangan yang berlebihan
  • Tidak memakai gelang kaki
  • Tidak menyambung rambut dan mencukur alis
  • Tidak memakai pewarna kuku karena mengganggu wudhu'
6. Nilai-nilai Positif Akhlak berhias
  • Menjaga dari kerusakan moral
  • Menjaga wanita dari tindak kejahatan
  • Menegaskan jati dirinya sebagai seorang muslim
  • Tidak menimbulkan rasa angkuh dan sombong
C. Akhlak Perjalanan
1. Pengertian Akhlak Perjalanan
     Perjalanan adalah akitivitas seseorang untuk meninggalkan rumah dengan berjalan kaki/menggunakan berbagai sarana transportasi yang mengantarkan sampai pada tempat tujuan.

2. Dalil tentang Perjalanan Islami
[HR.Ahmad]
Artinya: Tidak seorang keluar meninggalkan rumahnya, kecuali dipintu rumahnya ada panji. Sebuah ditangan malaikat dan sebuahnya lagi ditangan setan. Kalau tujuannya kepada apa yang diridhai Allah maka dia diikuti malaikat dengan panjinya sampai dia pulang kerumah. Apabila tujuannya yang dimurkai Allah maka setan dengan panjinya mengikutinya sampai dia pulang kerumahnya.

3. Pentingnya Akhlak Perjalanan
  • Mendapat pahala dan manfaat
  • Selamat dari bahaya yang mengancam diluar (selama perjalanan)
  • Menyehatkan kondisi jasmani dan rohani
4. Bentuk Akhlak Perjalanan yang Islami
  • Bermusyawarah dan salat istikharah
  • Mengembalikan hak dan amanat kepada pemiliknya
  • Mengajak istri (suami)/anggota keluarganya
  • Wanita tidak pergi seorang diri (dalam jarak tertentu)
  • Salat sunah 2 rakaat sebelum dan sesudah melakukan perjalanan
  • Berdoa dan membaca takbir 3x
  • Berpamitan pada keluarga
  • Memiliki kawan pendamping yang saleh
5. Contoh Akhlak Perjalanan yang Islami
  • Menjaga pandangan kedepan agak menunduk sedikit
  • Tidak banyak menoleh orang lain yang membutuhkan bantuan kita
  • Berbincang sewajarnya dengan orang yang seperjalanan
6. Nilai-nilai Positif Akhlak Perjalanan
  • Melepaskan kejenuhan dan kepenatan
  • Menjadi sarana bagi seseorang dalam menjemput rezeki
  • Memperoleh tambahan ilmu
  • Menambah kawan dalam menumbuhkan tali silaturrahmi
D. Akhlak Bertamu
1. Pengertian Akhlak Bertamu
     Bertamu adalah kegiatan mengunjungi rumah seseorang dengan tujuan menjalin persaudaraan. Akhlak bertamu adalah adab/sopan santun ketika melakukan suatu kunjungan sesuai dengan norma yang berlaku dimasyarakat dan syari'at agama.

2. Dalil Cara Bertamu Islami
[QS.An-Nuur : 27]
Artinya: Wahai orang yang beriman! Janganlah kamu memasuki rumah yang bukan rumahmu sebelum meminta izin dan memberi salam kepada penghuninya. Yang demikian itu lebih baik bagimu, agar kamu (selalu) ingat.

3. Pentingnya Akhlak Bertamu
  • Menjalin persaudaraan
  • Melestarikan tradisi positif masyarakat
  • Melepas kerinduan anatar famili
  • Memperpanjang rezeki dan umur
4. Bentuk Akhlak Bertamu yang Islami
  • Meminta izin dan memberi salam kepada penghuninya
  • Memperhatikan sikon bertamu
  • Tidak terlalu lama bertamu
  • Menghargai jamuan
  • Tidak melakukan sesuatu yang mengganggu
  • Suara tamu hendak tidak melebihi suara tuan rumah
  • Meminta izin dan pamit pulang
5. Contoh Akhlak Bertamu yang Islami
  • Mata jangan jelalatan
  • Duduk, makan dan minum jamuan
  • Tidak meminta disuguhkan
6. Nilai-nilai Positif Akhlak Bertamu
  • Mendapatkan ridha Allah
  • Membuat orang bahagia
  • Menyenangkan malaikat
  • Membuat setan marah
  • Memanjangkan usia dan rezeki


Sumber : catatan MAN

Ijtihad Dalam Hukum Islam

1. Pengertian Ijtihad
     Kata ijtihad berasal dari kata  اجتهاد  yang berarti bersungguh-sungguh, rajin, dan giat. Ijtihad adalah perbuatan menggali hukum syar'iyyah dari dalil-dalilnya yang terperinci dalam syari'at. Orang yang melakukan ijtihad disebut mujtahid.

2. Hukum Ijtihad

a. Wajib 'ain
b. Wajib kifayah
c. Sunnah

3. Syarat-syarat bagi Mujtahid

a. Syarat umum
  • Baligh
  • Berakal sehat
  • Memahami masalah
  • Beriman
b. Syarat khusus
  • Mengetahui ayat al-quran
  • Mengetahui sunnah nabi
  • Mengetahui rahasia hukum islam
  • Mengetahui kaidah kulliyah
  • mengetahui kaidah bahas arab
  • Mengetahui ilmu ushul fiqh
  • Mengetahui ilmu mantiq
  • Mengetahui penetapan hukum asal berdasarkan bara'ah ashliyah
  • Mengetahui soal ijma'
c. Syarat pelengkap
  • Mengetahui bahwa tidak ada dalil qath'iy
  • Mengetahui masalah yang diperselisihkan oleh ulama
  • Mengetahui bahwa hasil ijtihad itu bersifat mutlak
4. Tingkatan Mujtahid
a. Mujtahid muthlaq
b. Mujtahid muntasib
c. Mujtahid fil madzahib
d. Mujtahid murajjih


Sumber : catatan MAN

Sumber Hukum Islam Yang Tidak Disepakati Ulama

1. Istihsan
a. Pengertian Istihsan
     Menurut bahasa istihsan berarti menganggap baik. Sedangkan menurut istilah ahli ushul yang dimaksud dengan istihsan ialah berpindahnya seorang mujtahid dari hukum yang dikehendaki oleh qiyas jaly (jelas) kepada hukum yang dikehendaki oleh qiyas khafy (samar) atau dari hukum kully (umum) kepada hukum yang bersifat khusus dan istinai (pengecualian).

b. Macam-macam Istihsan

  • Menguatkan qiyas khafy atas qiyas jaly dengan dalil. Misalnya wanita yang sedang haid boleh membaca Al-Quran berdasarkan istihsan tetapi haram menurut qiyas
  • Pengecualian sebagian hukum kully dengan dalil. Misalnya jual beli salam (pesanan) berdasarkan istihsan diperbolehkan. Menurut dalil kully, syara' melarang jual beli yang barangnya tidak ada pada waktu akad
c. Kedudukan Istihsan sebagai Sumber Hukum Islam
  • Jumhur ulama menolak berhujjah dengan istihsan, sebab berhujjah dengan istihsan berarti menetapkan hukum berdasarkan hawa nafsu
  • Golongan hanafiyah membolehkan berhujjah dengan istihsan. Menurut mereka, berhujjah dengan istihsan hanyalah berdalilkan qiyas khafy yang dikuatkan terhadap qiyas jaly
  • Fuqaha hanafiyah maupun malikiyah baru memakai istihsan apabila penerapan hukum berdasarkan qiyas jaly itu mengakibatkan kejanggalan dan ketidakadilan
2. Istishab
a. Pengertian Istishab
    Yang dimaksud dengan istishab ialah mengambil hukum yang telah ada atau ditetapkan pada masa lalu dan tetap dipakai hingga masa-masa selanjutnya sebelum ada hukum yang mengubahnya.

b. Macam-macam Istishab
  • Istishab kepada hukum akal dalam hukum ibadah atau baraatul ashliyah (kemurnian menurut aslinya)
  • Istishab kepada hukum syara' yang sudah ada dalilnya dan tidak ada suatu dalil yang mengubahnya
c. Kedudukan Istishab sebagai Sumber Hukum Islam
  • Menjadikan istishab sebagai pegangan dalam menentukan hukum sesuatu peristiwa yang belum ada hukumnya
  • Menolak istishab sebagia pegangan dalam menetapkan hukum
3. Mashalih Al-Mursalah
a. Pengertian Mashalih Mursalah
     Mashalih bentuk jamak dari maslahah yang artinya kemaslahatan. Mursalah artinya terlepas. Mashalih Al-Mursalah berarti kemaslahatan yang terlepas. Contoh mashalih mursalah misalnya dalam mensyari'atkan adanya penjara, dicetaknya mata uang, ditetapkan pajak.

b. Kedudukan Mashalih Mursalah sebagai Sumber Hukum
  • Jumhur ulama yang menolaknya sebagai sumber hukum
  • Imam malik membolehkan berpegang kepadanya secara mutlak
c. Syarat-syarat berpegang kepada Mashalih Al-Mursalah
  • Maslahat itu jelas dan pasti
  • Maslahat itu bersifat umum
  • Hukum berdasarkan maslahat itu tidak bertentangan dengan nash
4. Al-'Urf
     Yang dimaksud dengan 'urf ialah segala sesuatu yang sudah dikenal dan dijalankan oleh masyarakat. 'Urf berbeda dengan ijma' karena 'urf terjadi berdasarkan kebiasaan yang dialami oleh orang yang berbeda tingkatan mereka. Sedangkan ijma' dibentuk dari persesuaian pendapat khusus dari kalangan mujtahid. Al-'urf merupakan adat istiadat.

5. Syar'u Man Qablana
     Syar'u man qablana ialah syari'at yang diturunkan kepada orang-orang sebelum kita, yaitu ajaran agama sebelum datangnya agama Islam.

6. Saddu Al-Dzari'ah
     Dzari'ah jama' dari kata dzari'ah yang artinya jalan. Saddu al-dzari'ah berarti menutup jalan. Saddu al-dzari'ah berarti melarang perkara-perkara yang lahirnya boleh karena ia membuka jalan dan menjadi pendorong kepada perbuatan-perbuatan yang dilarang agama.

7. Madzhab Shahabi
     Madzhab shahabi adalah fatwa-fatwa para sahabat mengenai berbagai masalah yang dinyatakan setelah rasulullah wafat.

8. Dalalat Al-Iqtiran
     Dalalat al-iqtiran adalah dalil-dalil yang menunjukkan kesamaan hukum terhadap sesautu yang disebutkan bersamaan dengan sesuatu yang lain.


Sumber : catatan MAN

Hukum Syar'i

A. Hukum Taklifi
1. Pengertian Hukum Taklifi
     Hukum taklifi adalah hukum yang menghendaki dikerjakan oleh mukallaf, larangan mengerjakan, atau memilih antara mengerjakan dan meninggalkan.

2. Macam-macam Hukum Taklifi

a. Wajib » Suatu perbuatan mukallaf yang diperintahkan syara' dengan ketentuan perintah itu harus dilakukan sesuai dengan petunjuk
b. Sunah » Perintah syar'i untuk dikerjakan mukallaf dengan perintah yang tidak pasti
c. Haram » Tuntunan tegas syar'i untuk ditinggalkan secara pasti
d. Makruh » Perintah syar'i kepada mukallaf agar tidak melakukan suatu perbuatan dengan larangan yang tidak pasti
e. Mubah » Suatu perbuatan yang syara' memberikan pilihan kepada mukallaf untuk memilih antara mengerjakan atau meninggalkan

B. Hukum Wadh'i

1. Pengertian Hukum Wadh'i
     Hukum wadh'i adalah hukum yang menghendaki adanya sebab atau syarat atau penghalang bagi sesuatu yang lain.

2. Macam-macam Hukum Wadh'i

a. Sebab » Sesuatu yang oleh syara' dijadikan indikasi adanya sesuatu yang lain yang menjadi akibatnya, sekaligus menghubungkan adanya akibat karena adanya sebab.
b. Syarat » Sesuatu yang ada atau tidak adanya hukum tergantung kepada ada atau tidak adanya sesuatu itu (yang dapat menimbulkan pengaruh ada atau tidak adanya hukum).
c. Mani' » Penghalang atau sesuatu yang adanya dapat menyebabkan tidak adanya hukum atau membatalkan sebab.
d. Rukhsah dan azimah » Rukhsah adalah hukum keringanan yang telah disyariatkan oleh Allah kepada mukallaf dalam kondisi tertentu. Azimah adalah hukum-hukum umum yang sejak semula telah disyariatkan oleh Allah dan tidak dikhususkan pada kondisi tertentu.
e. Benar dan batal » Benar adalah perbuatan yang sesuai dengan ketentuan syar'i. Batal adalah perbuatan yang tidak sesuai dengan ketentuan syar'i.

C. Mempedomani Hukum Islam

     Hukum Islam bertujuan untuk menciptakan kehidupan yang baik dan teratur bagi manusia baik dalam kehidupan individu maupun kemasyarakatan. Hukum-hukum itu merupakan jaminan dari Allah dan rasul terhadap manusia. Hukum agama yang diturunkan oleh Allah adalah untuk keselamatan manusia dan rahmatan lil'alamin.

D. Unsur-unsur Hukum Syar'i

1. Mahkum Fih
     Mahkum fih adalah perbuatan mukallaf yang berhubungan dengan hukum syar'i.
a. Wajib » Memenuhi janji
b. Sunah » Mencatat hutang
c. Haram » Membunuh
d. Makruh » Menginfakkan hartanya yang jelek
e. Mubah » Sakit/dalam perjalanan
     Semua perintah atau larangan berhubungan dengan perbuatan mukallaf. Dalam perintah yang dituntut adalah mengerjakan yang diperintahkan dan dalam larangan yang dituntut adalah menahan yang dilarang. Tuntutan syara' terhadap perbuatan mukallaf menjadi sah apabila:
a. Perbuatan itu sungguh-sungguh diketahui oleh mukallaf sehingga ia dapat menunaikan tuntutan sesuai dengan yang diperintahkan
b. Harus diketahui bahwa tuntutan itu keluar dari orang yang mempunyai wewenang menuntut
c. Perbuatan yang dituntut adalah perbuatan yang mungkin dilakukan

2. Mahkum 'Alaih

     Mahkum 'alaih adalah seorang mukallaf yang perbuatannya berhubungan dengan hukum syara'. Dalam syara' sahnya memberikan beban kepada mukallaf disyaratkan:
a. Mukallaf harus dapat memahami dalil taklif
b. Mukallaf harus orang yang ahli dengan sesuatu yang dibebankan

3. Awaridhul Ahliyah

     Awaridhul ahliyah adalah penghalang-penghalang keahlian, yaitu penghalang keahlian seseorang untuk melaksanakan ketentuan syar'i sehingga seorang manusia tidak mengerjakan ketentuan, atau mendapat keringanan. Penghalang-penghalang tersebut adalah:
a. Penghalang-penghalang yang datang yang dapat menghalangi sama sekali ahliyatul adanya. Misalnya gila, tidur, pingsan, atau hilang akal
b. Penghalang yang datang kepada manusia yang tidak menghilangkan keahlian sama sekali, yaitu sifat kurang akal
c. Penghalang yang datang kepada manusia tetapi tidak mempengaruhi keahlian



Sumber : catatan MAN

Sumber Hukum Islam Yang Disepakati Ulama

1. Al-Quran
   a. Pengertian Al-Quran
     Menurut bahasa Al-Quran berarti bacaan yaitu bentuk mashdar dari kata qara'a. Menurut istilah Al-Quran adalah firman Allah swt yang diturunkan kepada nabi Muhammad saw yang mengandung nilai mukjizat (sebagai bukti kebenaran atas kenabian Muhammad saw) yang ditulis dalam mushaf dengan jalan mutawattir dan membacanya dinilai sebagai ibadah.
     Maka, Al-Quran adalah wahyu Allah yang diturunkan kepada nabi Muhammad saw untuk dijadikan pedoman hidup, sumber hukum dan petunjuk bagi umatnya guna mencapai kebahagiaan.

   b. Pokok-pokok Isi Al-Quran
  • Tauhid (kepercayaan terhadap keesaan Allah)
  • Ibadah (perbuatan dari kepercayaan ajaran tauhid)
  • Akhlak (perbuatan yang terpuji dan tercela)
  • Janji dan ancaman (janji pahala/ganjaran bagi yang percaya)
  • Kisah-kisah umat terdahulu (kisah para rasul untuk dijadikan teladan)
   c. Dasar Kehujjahan Al-Quran dan Kedudukannya sebagai Sumber Hukum
     Al-Quran menempati kedudukan pertama dari sumber-sumber hukum yang lain dan merupakan aturan dasar tertinggi. Sumber hukum maupun norma tidak boleh bertentangan dengan Al-Quran.

   d. Pedoman Al-Quran dalam Menetapkan Hukum
  • Tidak memberatkan/tidak menyulitkan ('adamul haraj)
  • Menyedikitkan beban (qillatut taklif)
  • Berangsur-angsur dalam menetapkan hukum (attadrij fit tasyri')
   e. Sifat Hukum yang Ditunjukan Al-Quran
     Ayat-ayat hukum yang terdapat didalam Al-Quran pada umumnya bersifat kulli (umum) dan sedikit sekali yang bersifat juz'i (terinci). Ayat-ayat kulli adalah ayat yang memerlukan penjelasan. Misalnya ayat Al-Quran yang berkaitan dengan salat dan zakat. Allah tidak merincikan bagaimana caranya salat dan berapa kadar zakat, maka yang berhak memberikan penjelasan dari ayat-ayat Al-Quran yang bersifat kulli adalah Rasulullah saw melalui sabdanya.

2. As-Sunnah
   a. Pengertian As-Sunnah
     Menurut bahasa As-Sunnah yang berarti kebiasaan atau jalan/dijalani. Sunnah juga merupakan jalan yang ditempuh, cara/jalan yang sudah terbiasa, sebagai lawan dari kata bid'ah. Menurut istilah sunnah adalah sesuatu yang berasal dari Rasulullah saw baik berupa perkataan, perbuatan maupun penetapan pengakuan.
     Maka, As-Sunnah adalah segala sesuatu yang diperhatikan, dilarang atau dianjurkan oleh Rasulullah saw baik berupa perkataan (qauli), perbuatan (fi'li), maupun ketetapannya (taqriry).
     Sunnah dibagi menjadi tiga yaitu sunah qauliyah, sunah fi'liyah, dan sunah taqririyah. As-Sunnah sebagai sumber hukum Islam adalah menjadikan As-Sunnah sebagai pedoman dan pegangan hidup, mengandarkan segala permasalahan hidupnya kepada As-Sunnah.

   b. Dasar As-Sunnah sebagai Sumber Hukum Islam
     As-Sunnah sebagai sumber hukum Islam yang kedua sangat kuat dan yang mengingkarina tergolong kafir. Peran sunnah terhadap Al-Quran yaitu:
  • Sunnah sebagai penjelas dan merinci ayat Al-Quran yang masih global
  • Sunnah membawa hukum yang tidak ada ketentuan nash di Al-Quran
  • Sunnah memperkuat ketentuan-ketentuan yang telah ditetapkan
3. Ijma'
   a. Pengertian Ijma'
     Ijma' berarti sepakat, setuju atau sependapat. Menurut istilah ijma adalah kesamaan pendapat para mujtahid umat nabi Muhammad saw setelah beliau wafat, pada suatu masa tertentu, tentang masalah tertentu. Contoh mengenai ijma' adalah menjadikan sunnah sebagai salah satu sumber hukum Islam.

   b. Macam-macam Ijma'
  • Ijma' sharih » semua mujtahid menyatakan persetujuan atas hukum yang mereka putuskan dengan lisan ataupun tulisan
  • Ijma' sukuti » sebagian mujtahid yang memutuskan hukum itu tidak semuanya menyatakan setuju baik lisan ataupun tulisan melainkan diam
     Dalam tatanan ilmu yang lebih luas lagi, ijma' dibagi dalam beberapa macam, yaitu:
  • Ijma' ummah » kesepakatan seluruh mujtahid dalam suatu masalah
  • Ijma' shahaby » kesepakatan semua ulama sahabat dalam suatu masalah
  • Ijma' ahli madinah » kesepakatan ulama madinah dalam suatu masalah
  • Ijma' ahli kufah » kesepakatan ulama kufah dalam suatu masalah
  • Ijma' khalifah yang empat » kesepakatan empat khalifah (abu bakar, umar, usman, dan ali)
  • Ijma' syaikhani » kesepakatan pendapat antara abu bakar dan umar bin khatab
  • Ijma' ahli bait » kesepakatan pendapat antara ahli bait (keluarga Rasul)
   c. Kedudukan Ijma' sebagai Sumber Hukum
     Kebanyakan ulama menetapkan bahwa ijma' dapat dijadikan hujjah dan sumber hukum Islam dalam menetapkan sesuatu hukum dengan nilai kehujjahan bersifat zhanny.

   d. Sebab-sebab Dilakukan Ijma'
  • Karena adanya persoalan yang harus dicarikan status hukumnya
  • Karena nash baik yang berupa Al-Quran maupun As-Sunnah sudah tidak turun lagi
  • Karena pada masa itu jumlah mujtahid tidak terlalu banyak
  • Diantara para mujtahid belum timbul perpecahan
   e. Contoh-contoh Ijma'
  • Dikumpulkan dan dibukukan nash Al-Quran sejak masa pemerintahan
  • Penetapan tanggal 1 Ramadhan/tanggal 1 Syawwal harus disepakati
  • Nenek mendapatkan harta warisan 1/6 dari cucunya jika tidak terhijab
4. Qiyas
   a. Pengertian qiyas
     Qiyas menurut bahasa adalah mengukur, memperbandingkan atau mempersamakan sesuatu dengan lainnya dikarenakan adanya persamaan. Menurut istilah qiyas adalah menetapkan hukum sesuatu yang belum ada ketentuan hukumnya dalam nash dengan mempersamakan sesuatu yang telah ada status hukumnya dalam nash.
     Berbeda dengan ijma', qiyas bisa dilakukan oleh individu, sedangkan ijma' harus dilakukan bersama oleh para mujtahid.

b. Macam-macam qiyas
  • Qiyas aulawi » mengiyaskan sesuatu dengan sesuatu yang hukumnya telah ada, namun sifat/illatnya lebih tinggi dari hukumnya
  • Qiyas musawi » illat qiyas suatu hukum sama seperti halnya kasus keharaman hukum membakar harta anak dengan memakan hartanya
  • Qiyas dilalah » menetapkan hukum karena ada persamaan dilalat al-hukm (penunjukkan hukumnya)
  • Qiyas syibh » terjadinya keraguan dalam mengiyaskan, keasal mana illat ditunjukkan kemudian harus ditentukan salah satunya dalam rangka penetapan hukum padanya
c. Kedudukan qiyas dalam hukum Islam
     Menurut para ulama kenamaan, bahwa qiyas itu merupakan hujjah syar'iyyah terhadap hukum akal. Qiyas ini menduduki tingkat keempat hujjah syar'i, sebab dalam suatu peristiwa bila tidak terdapat hukumnya yang berdasarkan nash, maka peristiwa itu disamakan dengan yang lainnya.

d. Sebab-sebab dilakukan qiyas
  • Karena adanya persoalan-persoalan yang harus dicarikan status hukumnya
  • Karena nash, baik berupa Al-Quran maupun As-Sunnah telah berakhir dan tidak turun lagi
  • Karena adanya persamaan illat


Sumber : catatan MAN

Siyasah Syar'iah

A. Permasalahan Khilafah
1. Pengertian Khilafah
     Menurut bahasa, kata khilafah berasal dari bahasa arab "khalafa, yakhlifu, khilafatan" yang artinya menggantikan atau menjadi khilafah/penguasa. Kata khalafa dapat diartikan "kekuasaan atau pemerintahan". Menurut istilah, khilafah yaitu "susunan pemerintahan yang diatur menurut ajaran Islam, dimana aspek-aspek yang berkenaan dengan pemerintahan seluruhnya berlandaskan ajaran Islam".
     Dengan demikian, maka khilafah adalah susunan pemerintahan yang diatur menurut syariat Islam (fardhu kifayah).

2. Tujuan Khilafah
  • Terciptanya kehidupan beragama yang mantap pengalamannya dengan segala aspek kehidupan umat, baik dalam kehidupan pribadi, masyarakat, dan negara.
  • Terwujudnya kehidupan masyarakat yang adil, makmur, dan sentosa.
3. Dasar-dasar Khilafah
  • Ijma' sahabat
  • Melaksanakan hukum Islam
  • Nash Al-Quran dan Al-Hadist
  • Kejujuran dan keikhlasan
  • Keadilan yang mutlak
  • Persatuan dan ukhuwah Islamiyah
  • Tauhid (mengesakan Allah)
  • Kedaulatan rakyat
4. Perbedaan Khilafah dengan Khalifah
     Kata khalifah mengandung arti pengganti yaitu pengganti kedudukan yang ditinggalkan pendahulunya. Khalifah dapat juga diartikan orang yang memegang tampu pemerintahan atau orang yang diberi tugas menjalankan pemerintahan.
Khilafah » pemerintahan, kepemimpinan (mashdar)
Khalifah » orangnya, pemimpin, pemerintah (isim sifat)

5. Syarat-syarat menjadi Khalifah
  • Taat kepada Allah dan Rasul
  • Berakhlak mulia
  • Memiliki kecerdasan akal pikiran
  • Teguh pendirian
  • Pilihan rakyat
6. Cara Pengangkatan dan Bai'at Khalifah
  • Cara pengangkatan khalifah
    a. Pemilihan secara langsung » umat Islam yang sudah berhak untuk memilih
    b. Pemilihan secara tidak langsung » pemilihan oleh ahlul halli wal aqdi/wakil-wakil rakyat yang berhak memutuskan
  • Bai'at khalifah
    Bai'at artinya sumpah kesetiaan/sumpah kepercayaan atau yang banyak dikenal sekarang pelantikan
7. Hak dan Kewajiban Rakyat
  • Hak rakyat (sesuatu yang harus diterima oleh seseorang)
    a. Mendapatkan jaminan hidup
    b. Kemerdekaan pribadinya
    c. Kemerdekaan tempat tinggal
    d. Kemerdekaan berpikir
    e. Kemerdekaan belajar
    f. Kemerdekaan beragama
    g. Mendapat keadilan
  • Kewajiban rakyat (sesuatu yang harus diberikan oleh seseorang)
    a. Menaati segala peraturan negara
    b. Menaati khalifah yang sah
    c. Mempertahankan dan membela negara
    d. Menjaga kesatuan dan persatuan
    e. Mensejahterakan dan memakmurkan negara
    f. Menghormati HAM
8. Hikmah Khalifah
  • Dapat terselenggaranya ketentuan agama
  • Dapat lebih memajukan kesejahteraan umat
  • Terselenggaranya kesatuan dan persatuan umat
  • Tegaknya keamanan, ketertiban, dan keselamatan umat
  • Adanya contoh kepemimpinan dan sistem pemerintahan Islam
B. Majlis Syura dan Ahlul Halli Wal Aqdi
1. Pengertian Majlis Syura
     Menurut bahasa adalah tempat musyawarah atau lembaga permusyawaratan. Menurut istilah adalah badan atau lembaga tempat bermusyawarah para wakil rakyat dan orang yang berilmu. Ada beberapa hal pokok dalam musyawarah yang sesuai dengan anjuran Al-Quran dan Al-Hadist, antara lain:
  • Urusan yang menyangkut kepentingan orang banyak
  • Rakyat yang berkepentingan harus dimintai pendapatnya
  • Bermusyawarah harus bebas, adil, jujur tanpa ada paksaan
2. Pengertian Ahlul Halli Wal Aqdi
     Ahlul halli wal aqdi adalah wakil-wakil rakyat yang menjadi anggota majlis syura. Ahlul halli wal aqdi dapat diinterprestasikan yaitu para ulama cerdik pandai dan pemimpin-pemimpin yang mempunyai kedudukan dalam masyarakat.

3. Syarat-syarat menjadi Anggota Majlis Syura
  • Taqwa (memelihara agama)
  • Adil (mengerjakan kewajiban dan menjauhkan maksiat)
  • Jujur (tidak mudah kena bujukan)
  • Ahli ilmu (berpengetahuan)
  • Teguh pendirian (bijaksana)
4. Hak dan Kewajiban Majlis Syura
  • Hak majlis syura
    a. Sama seperti hak rakyat
    b. Mendapat fasilitas yang wajar sesuai kedudukan
    c. Mendapat pengamanan dari negara
    d. Mendapat jasa kehidupan
  • Kewajiban majlis syura
    a. Mengangkat dan memberhentikan khalifah
    b. Membuat UU bersama dengan khalifah
    c. Menetapkan anggaran belanja negara
    d. Mengawasi jalannya pemerintahan
    e. Merumuskan gagasan yang dapat mempercepat tercapainya tujuan
    f. Merumuskan dan menetapkan garis besar program
    g. Menghadiri sidang-sidang yang dilaksanakan majlis syura
5. Hikmah Majlis Syura
  • Mengurangi terjadinya kesalahan
  • Memilih dan mengangkat pemimpin yang tepat
  • Menghindari perpecahan, permusuhan, dan pertentangan
  • Menghasilkan keputusan yang adil


Sumber : catatan MAN